Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Ingin Mudik atau Bepergian Dengan Bayi? Jangan Lupa Persiapkan Ini

Ingin Mudik atau Bepergian Dengan Bayi? Jangan Lupa Persiapkan Ini

Mudik atau bepergian dengan bayi memang tidak segampang yang kita pikirkan. Banyak yang harus dipersiapkan sebelum kita memulai perjalanan bersama bayi. Beberapa hal seperti perlengkapan bayi dan juga makanan bayi harus diperhatikan sebelum mulai bepergian bersama bayi. Agar perjalanan bersama bayi terasa menyenangkan dan aman, berikut ini adalah beberapa hal yang harus Bunda perhatikan

 Seringkali kita melihat orang tua yang membawa anaknya ketika bepergian. Baik yang masih bayi atau yang sudah berusia 5 tahun ke atas. Pemandangan seperti ini sangat umum kita jumpai ketika kita bepergian atau pulang kampung misalnya.

Bagi ibu baru, bepergian bersama bayi mukanlah hal yang mudah dilakukan. Kebanyakan dari mereka merasa takut terlebih dahulu ketika hendak bepergian bersama bayi. Hal demikian terkadang juga terjadi kepada ibu yang telah memiliki 2-5 anak dan pernah melakukan bepergian bersama bayi.

Padahal, bila kita bisa mempersiapkan semuanya dengan baik, bepergian bersama bisa terasa menyenangkan, bahkan terkadang pengalaman ini akan terasa sangat berkesan.

Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Bepergian dengan Bayi

Ketika kondisi bayi sedang sehat, melakukan bepergian dengan bayi pada dasarnya sudah bisa dilakukan. Bahkan, saat ini beberapa maskapai penerbangan juga sudah memperbolehkan bayi yang baru lahir juga ikut dibawa menaiki pesawat. Syaratnya, minimal 2 hari setelah bayi dilahirkan.

Akan tetapi, membawa bayi yang belum genap seminggu untuk bepergian memerlukan persiapan ekstra karena kondisi fisik dan ketahanan tubuh bayi yang masih rentan terhadap virus dan bakteri.

Bila memang terpaksa harus bepergian dengan membawa bayi, beberapa hal yang harus dibawa yaitu:
  1. Gendongan bayi, sudah tentu perlengkapan yang satu ini tidak akan pernah ketinggalan. Karena memang benda yang satu ini adalah benda yang sering kita gunakan.
  2. Baju ganti, sebaiknya pilihlah baju ganti yang benar-benar nyaman. Usahakan untuk selalu menyesuaikan dengan kondisi sekitar.
  3. Siapkan popok ganti lebih banyak
  4. Jangan lupa membawa tisu basah untuk membersihkan bokong bayi saat bayi buang air besar.
  5. Handuk bayi yang lembut
  6. Obat-obatan sebagai antisipasi. Bawalah obat-obatan yang memang diperlukan bayi.
  7. Bantal yang empuk dan nyaman,
  8. Mainan bila sewaktu-waktu bayi Anda merasa bosan dalam perjalanan
  9. Makanan ringan  
  10. ASI perah yang sudah siap di dalam botol-botol. Saat membawa ASI perah, usahakan untuk menyimpannya dengan baik dan benar agar asi tidak cepat basi (baca: tanda asi basi).
  11. Susu formula bila bayi Anda tidak meminum asi secara eksklusif.
  12. Alas atau perlak
Hal yang paling penting adalah memastikan bahwa kondisi bayi benar-benar sedang fit sebelum perjalanan dimulai.


Cara Pijat Bayi yang Baik dan Benar

Cara Pijat Bayi yang Baik dan Benar

Cara pijat bayi yang baik dan benar memang tidak dimengerti oleh setiap ibu baru. Kebanyakan dari mereka memilih untuk memanggil tukang pijat bayi yang sudah mahir.

Padahal kita, sebagai orang tua setidaknya mengetahui bagaimana memijat bayi dengan baik dan benar. Sehingga bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa memberikan pertolongan pertama pada buah hati kita.

Kami telah menyederhanakan pijat bayi agar mudah dipraktekkan. Lakukan masing-masing secara perlahan, selama sekitar satu menit, dengan menggunakan tekanan sedang yang diterapkan dengan bantalan jari-jari Anda, bukan seluruh telapak tangan Anda. Jaga agar bayi tetap nyaman dengan menjaga suhu ruangan agar tetap hangat dan menggunakan handuk lembut untuk menutupi kulitnya yang terbuka.

Sebelum Anda memulai memijat bayi, pastikan terlebih dahulu apakah anda memiliki peralatan berikut ini.

  1. Permukaan datar yang nyaman ditutupi oleh selimut atau tikar
  2. Sejumlah kecil minyak bayi (minyak zaitun juga bekerja dengan baik)
  3. Tisu atau tisu untuk menyeka minyak berlebih
  4. Handuk atau selimut lembut untuk menutupi bayi Anda
  5. Sebuah dot, jika itu menenangkan untuk si kecil Anda 
  6. Penerangan yang Redup
  7. Musik lembut
Bila peralatan tersebut telah tersedia di dekat Anda, marilah kita mulai melakukan pijat bayi.

Baringkan bayi Anda dengan nyaman di atas perutnya, dengan kepala menoleh ke satu sisi.

Tuang beberapa tetes baby oil atau minyak zaitun ke tangan Anda, dan gosokkan bersama-sama untuk melembabkan mereka.

Mulailah mengelus dari dahinya di atas kepala, lalu turun ke tengkuknya.

Tekan perlahan setiap bahu dari pusat leher sampai ke lengan, lakukan ini pada kedua lengan secara bergantian

Dari atas punggung bayi Anda, pijat ke pinggulnya dengan kedua tangan, berhati-hati untuk menghindari tulang belakang.

Tekan secara perlahan menggunakan jari-jari Anda pada kaki belakang bayi anda dari paha sampai bawah kemudian kembali lagi

Ulangi gerakan membelai yang sama di bagian belakang lengan bayi Anda.

Balikkan bayi Anda ke punggungnya. Ulangi gerakan bawah dan dada di dada dan bagian depan lengan dan kakinya.

Lakukanlah dengan penuh kelembutan supaya bayi Anda tidak merasa kesatikan ketika Anda pijat. Semoga cara pijat bayi ini dapat bermanfaat untuk Anda.

Related:

  1. Cara Mengatasi Demam pada Bayi
  2. Cara Meredakan Batuk Bayi

Tips Merangsang dan Meningkatkan Tingkat Kecerdasan Bayi


Firdaus45.com - Memiliki bayi yang cerdas merupakan idaman setiap orang tua. Banyak cara yang akan dilakukan agar bayinya menjadi anak yang cerdas di kemudian hari.

Namun, bagi sebagian orang tua banyak yang percaya bahwa kecerdasan seorang anak itu merupakan keturunan dari ayah atau ibunya. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan agar bayi kita menjadi seorang anak yang cerdas di kemudian hari.

Nah, bagi Anda yang berharap itu terjadi pada bayi Anda, cobalah beberapa tips berikut ini agar kemampuan otak bayi anda meningkat.


Tips Merangsang Kemampuan Otak

1. Berikan bayi rangasangan berupa pijatan (Stimulasi Sensori)
Dari beberapa penelitian, memberikan pijatan lembut kepada bayi dapat merangasang otak bayi secara perlahan.


2. Lakukan Komunikasi dengan Bayi
Meskipun bayi tidak dapat merespon dengan bayi apa yang kita bicarakan, tapi belum tentu bayi itu tidak mengerti apa yang kita ucapkan.

Mereka akan mendengar apa yang kita ucapkan kemudian menyimpan informasi tersebut bila suatu hari informasi tersebut terulang. Bila kita sering berkomunikasi dengan bayi, bayi akan memiliki kosa kata yang lebih banyak sehingga mendorong mereka untuk lebih cepat berbicara.

Selain itu, sering melakukan komunikasi dengan bayi akan dapat meningkatkan hubungan batin antara orang tua dengan anak.

3. Hindari Stimulus yang berlebihan dan suara-suara yang mengganggu.
Banyak penelitian yang menunjukkan hasil bahwa suara atau musik klasik akan membuat emosi bayi cenderung stabil. Berbeda dengan bayi yang terlalu sering mendengarkan musik-musik rock atau yang berirama tidak beraturan. Mereka akan cenderung memiliki emosi yang lebih tidak terkontrol.


Oleh karena itu, banyak pakar menyarankan untuk mendengarkan si kecil musik-musik klasik atau lantunan Al- Quran baik pada saat dalam kandungan ataupun sudah lahir.

4. Setel atau Aturlah Lingkungan Si Kecil Agar Mereka Mudah dalam Belajar
Lingkungan memang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hal apapun, salah satunya dalam meningkatkan kecerdasan bayi.


Menyetel atau mengatur lingkungan tempat si kecil bermain akan dapat membantu proses percepatan bayi dalam belajar.

Tidak harus benda-benda mahal, semua benda pada dasarnya dapat digunakan untuk melatih dan menstimulasi perkembangan otak si bayi.

Jadi pintar-pintarlah dalam menset suatu ruangan atau lingkungan tempat si kecil bermain agar setiap apa yang dilakukannya bernilai edukasi.

5. Meningkatkan Kepekaan Anda Terhadap Respon Bayi
Perhatikanlah semua gerak-gerik dan tingkah polah si kecil kemudian berikan respon kepadanya sehingga mereka merasa bahwa dirinya diperhatikan.


Berikan senyuman, ciuman, belaian dan apa saja ketika bayi sedang menatap atau melakukan gerakan-gerakan seperti senam, mengepal-ngepal, dan banyak lagi.

Bila si kecil mengeluarkan suara, berikan respon balik dengan suara menirukan atau menjawab apa sayang, iya sayang, dll.

Kesalahan Menangani Demam Pada Anak, Jangan Lakukan ini ya Bund?

Kesalahan Menangani Demam Pada Anak, Jangan Lakukan ini ya Bund?

Kesalahan Menangai Demam Pada Anak - Demam pada anak memang seringkali membuat panik dan gelisah para orang tua. Terlebih lagi bila demam datang dengan tiba-tiba setelah anak aktif bermain.

Meskipun begitu, sebagai orang tua kita harus cepat tanggap bila mendapati anak mulai menunjukkan gejala tidak enak badan. Termasuk dalam menangani demam pada anak.

Baca: Mengatasi demam pada bayi

Tidak semua orang tua mengerti bagaimana cara mengatasi demam pada bayi. Berikut poin lengkap kesalahan menangani demam pada anak

1. Menutupi badan anak secara berlebihan
Kesalahan menangani demam pada anak yang sering dilakukan orangtua adalah menutupi badan si kecil secara berlebihan. Biasanya, karena beranggapan bahwa demam akan segera hilang jika keringat yang keluar semakin banyak, orangtua akan memaksa anak untuk mengenakan selimut dan sweater secara berbarengan.

Padahal, hal ini justu merupakan tindakan yang salah. Penyebabnya tidak lain karena penutup badan berlebih justru akan membuat panas tubuh anak terperangkap dan tidak bisa keluar dengan optimal. Solusinya, pakaikan anak baju atasan dan celana yang berukuran pendek dan berbahan dasar katun.

2. Mengompres dengan air dingin
Ketika anak demam, hindarilah mengompres badannya dengan air dingin. Mengapa? Sebab kebiasaan ini justru akan membuat pori-pori kulit si buah hati mengecil. Inilah yang membuat panas tubuh anak susah keluar dan membaut demam bertahan lebih lama.

3. Mengompres di kening saja
Tahukah Anda, bahwa kebiasaan mengompres anak di bagian keningnya saja akan membuat proses pengeluaran panas tubuh tidak berjalan dengan optimal? Ya, dengan mengompres kening saja, Anda secara tidak sadar telah memusatkan proses pengeluaran panas tubuh di bagian kepala atas saja. Padahal, agar demam hilang dengan cepat, Anda diharuskan untuk merangsang pengeluaran panas dari seluruh bagian tubuh anak.

Solusinya, usaplah seluruh bagian tubuh si kecil dengan handuk yang sudah di rendam dalam air panas. Dengan cara ini, pori-pori kulitnya akan membuka lebar sehingga panas tubuh lebih mudah keluar.

4. Tidak memperhatikan jumlah konsumsi air putih
Kesalahan menangani demam pada anak yang selanjutnya adalah kebiasaan orangtua yang lalai dalam memperhatikan jumlah konsumsi air putih. Padahal, hal ini sangatlah penting sebab dapat meminimalisir risiko anak terkena dehidrasi. Karenanya, selalu pastikan bahwa anak minum dalam jumlah yang cukup –minimal 8 gelas sehari.

5. Memaksa makan banyak
Karena ingin demam reda dengan segera, banyak orangtua yang kemudian memaksa anaknya untuk makan dalam jumlah banyak. Padahal saat demam, anak akan mengalami penurunan selera dan kemampuan mengecap. Karenanya, jangan paksakan anak untuk makan secara berlebih; sebab hal ini justru akan membuat ia mual dan muntah.

6. Tidak mematuhi resep
Terakhir, kesalahan menangani demam pada anak yang sering dilakukan orangtua adalah tidak mematuhi resep obat yang tersurat di bagian kemasan; atau malah yang telah diresepkan dokter. Biasanya, orangtua malakukan hal ini sebab percaya bahwa semakin besar dosis obat yang diberikan, maka semakin cepat pula proses penyemnbuhan penyakit anak. Padahal, resep yang tertera sudah mempertimbangkan banyak hal, lho! Semisal umur dan berat badan anak. Jadi, jangan asal, ya!

Itu tadi 6 kesalahan menangani demam pada anak yang sering dilakukan orangtua. Semoga bermanfaat!

Beginilah Cara Mengatasi Bila Bayi Panas Setelah Imunisasi

Bayi Panas Setelah Imunisasi - Sekarang ini, banyak sekali para ibu menolak memberikan vaksin atau imunisasi kepada si kecil dengan berbagai alasan. 

Padahal, Imunisasi atau vaksin merupakan salah cara yang sangat ampuh untuk menjaga si kecil dari serangan beberapa jenis penyakit.

Pemberian vaksin atau imunisasi sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh si kecil terhadap beberapa penyakit yang dapat membahayakan kesehatan si kecil.

Kondisi daya tahan tubuh bayi yang masih rentan dikhawatirkan akan mudah sekali terserang beberapa penyakit, melalui imunisasi, kekhawatiran ini dapat diminimalisir.

Namun, yang disayangkan adalah, di Indonesia banyak praktik kotor dari beberapa ahli medis dan juga kesehatan yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan memberikan vaksin palsu. Hal yang tidak berkeprimanusiaan yang seringkali membuat ibu-ibu dirumah enggan memberikan imunisasi atau vaksin kepada sang buah hati.

Banyak orang tua yang merasa khawatir bila mendapati si kecil kemudian demam tinggi setelah imunisasi. Padahal, sejatinya itu adalah reaksi yang normal. Namun terkadang tindakan-tindakan yang kurang tepat dalam upaya menurunkan panas si kecil dapat membuat kondisi kesehatan si kecil semakin memburuk, misalnya seperti demam yang disertai kejang. (Baca juga: Kenali Panas Bayi Anda)

Mengapa bayi demam setelah imunisasi? 



Seperti yang telah disebutkan di atas tadi bahwa, tujuan imunisasi adalah untuk melindungi tubuh dari beberapa penyakit berbahaya sebelum terjadi kontak dengan si kecil.

Mekanisme dari imunisasi adalah memanfaatkan pertahanan atau daya tahan tubuh secara alami untuk membentuk pertahanan tubuh yang secara spesifik dalam melawan beberapa infeksi maupun virus. 

Ketika bayi diimunisasi, vaksin yang sudah jinak dimasukkan ke dalam tubuh bayi. Selanjutnya, tubuh akan memproduksi atau menunjukkan respon imun sepertihalnya ketika si kecil sedang terkena penyakit. Bedanya adalah respon yang ditunjukkan tidak sama dengan respon yang ditunjukkan ketika bayi sedang terkena penyakit. Kemudian bila si kecil terkena penyakit yang sama di kemudian hari, secara spontan dan cepat sistem imun tubuh akan mencegah dan menghambat penyakit tersebut untuk berkembang di dalam tubuh.

Demam bayi yang ditunjukkan pasca imunisasi adalah proses pembentukan imunitas tubuh. Selain demam biasanya akan menunjukkan beberapa gejala seperti gatal, nyeri pada bekas suntikan. Ketika tubuh sedang membentuk sistem imun tubuh akan menyebabkan suhu tubuh meningkat.

Namun tidak semua imunisasi memberikan respon seperti demam. Hanya beberapa saja yang menyebabkan demam, seperti halnya imunisasi campak dan DPT (dipteri, pertusis, dan tetanus). Dan tidak semua bayi menunjukkan gejala demam ketika diberikan imunisasi campak dan DPT.

Pemberian vaksin yang mengalami peningkatan suhu tubuh sering kali membuat anda panik, serba salah bahkan ikut menangis tak tega dengan kondisi bayi. Walaupun sebelumnya anda akan diberi tahu pasca imunisasi perubahan yang dialami oleh bayi, anda dapat meminta obat penurunan panas untuk antisipasi peningkatan panas sewaktu-waktu. Pada panas bayi mencapai 38 derajat celcius tidak membutuhkan obat penurun panas.

Cara Mengatasi Bayi Demam Setelah Imunisasi




Berikut adalah cara yang bisa anda lakukan untuk mengurangi suhu badan yang tinggi pada bayi anda pasca imunisasi :
  1. Memberikan ASI sesering mungkin. Kandungan ASI memiliki zat yang dapat menggurangi peningkatan suhu badan.
  2. Mendekap bayi, dengan memberikan dekapan dari anda dapaet meningkatkan zat antinyeri sehingga menurunkan rasa sakitnya.
  3. Jangan menggunakan bedong atau selimbut tebal, gunakan baju yang mudah menyerap keringat.
  4. Kompres menggunakan air hangat sehingga menurunkan resiko kejang-kejang ketimbang menggunakan air dingin.
  5. Memberikan kompresan air hangat untuk mengurangi pembengkakan pasca suntikan. Kebanyakan bayi merasa nyeri ketika bekas suntikan tersentuh sehingga membuat tidak nyaman.
  6. Berikan pijatan halus agar bayi merasa nyaman
  7. Gunakan selalu alat pengukur panas (termometer) untuk melihat perkembangan peningkatan atau penurunan suhu tubuhnya.
  8. Pada umumnya kenaikan suhu badan bayi anda akan meningkat berkisar 38- 40 derajat celcius, panas badan anda akan menurun dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari. Ketika bayi anda mengalami panas melebihi 38 derajat celcius dapat diberikan obat penurun panas yang sesuai dengan anjuran dokter. 

Related:
  1. Makanan yang Paling Cocok untuk Turunkan Panas atau Demam Bayi
  2. Mengatasi Demam Pada Bayi

Bila ternyata tips di atas tidak dapat menurunkan demam atau panas bayi, segeralah pergi ke dokter terdekat untuk memeriksakan kondisi bayi Anda. Dikhawatirkan demam yang dialami bukan karena efek imunisasi, melainkan memang bayi Anda sedang terkena penyakit. 
10 hal yang wajib diketahui seputar wabah difteri

10 hal yang wajib diketahui seputar wabah difteri




Firdaus45.com - Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diptheriae. Penyakit difteri ini sebenarnya sudah lama menghilang namun kini kembali mewabah lagi. Hingga November 2017, dilaporkan sebanyak 11 provinsi terkena wabah difteri ini. Dari beberapa kasus yang terjadi di berbagai provinsi, 32 diantaranya telah meninggal dunia.

Kementrian Kesehatan mencatat setidaknya ada 95 kab/kota di 20 provinsi yang terkena wabah difteri. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena diduga penyebabnya adalah banyak orang tua yang menolah memberikan imunisasi kepada anak.

Wabah ini terus meningkat jumlahnya hingga ratusan kasus di berbagai daerah. Apa dan sejauh mana bahaya wabah difteri, berikut sepuluh hal seputar penyakit difteri seperti yang dilansir CNN yang patut diketahui:

1. Dilaporkan di 20 provinsi, KLB di 11 provinsi
Setidaknya ada 95 Kab/Kota dari 20 provinsi tejangkit wabah difteri sampai pada bulan November 2017. Sementara pada kurun waktu Oktober-November 2017, Kemenkes mencatat ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) difteri di wilayah kabupaten/kotanya.

Kesebelas provinsi itu, yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Jawa Timur disebutkan menempati provinsi paling banyak kasus difteri, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

2. Apa itu Difteri? 
Difteri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae yang mudah sekali menular melalui batuk atau bersin.

"Ini karena bakteri tersebut paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi saluran nafas," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, pada Kamis (7/12).

Di samping itu, bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Itu yang kemudian menjadi sebab kematian. Difteri bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah, serta remaja.

3. Penyebab Penyakit Difteri 
Penyebab penyakit difteri diduga karena balita tersebut tidak melakukan imunisasi. Hal ini didukung dari data yang diperoleh bahwa setidaknnya dua pertiga penderita penyakit difteri adalah balita yang belum pernah diimunisasi sama sekali (belum pernah imunisasi DPT).

"Sering orangtua kalau ditanya, sudah diimunisasi walaupun tidak bisa menunjukkan itu imunisasi difteri. Mereka kerap membela diri sudah imunisasi lengkap, di sisi lain, ternyata itu imunisasi polio, atau campak, dan DPT satu kali," ujar Soedjatmiko.

Jadi, ada kelompok pertama, orang yang tidak pernah diimunisasi sama sekali, ada juga yang diimunisasi tapi tidak lengkap.

4. Berapa imunisasi difteri yang disebut lengkap?
Soedjatmiko mengatakan, idealnya adalah sampai umur 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

5. Gejala terkena difteri
Gejala yang kentara bagi penderita difteri adalah jika mendapati ada selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung, apalagi disertai leher bengkak. Bisa jadi itu difteri, dan walaupun belum tentu, akan lebih baik diperiksa dulu untuk dibuktikan. Jika mendapati gejala itu, ada baiknya segera bawa ke puskesmas, atau RS terdekat.

6. Pengobatan difteri
Jika kemudian didiagnosa difteri, maka seseorang mesti dirawat inap, lalu diberi antibiotik. Yang bahaya kalau kuman tersebut mengeluarkan racun atau toksin yang merusak fungsi jantung dan saraf. Yang terkena difteri harus diisolasi selama dua minggu, dan semua yang di sekitarnya baik itu ibu, nenek, kakak, kerabat lainnya patut diperiksa juga. Bahkan, Soedjatmiko menambahkan, sebenarnya yang perlu diprioritas imunisasi adalah mereka yang kontak dengan pasien, apakah anggota keluarga, teman sekolah, atau tetangga. Imunisasi untuk cegah difteri ini mesti diulang setiap 10 tahun.

7. Risiko meninggal dunia
Rentang waktu setelah kena diagnosa hingga meninggal dunia beragam. Ada yang 5 hari, ada juga yang satu minggu tergantung derajat keparahan. Semua yang meninggal rata-rata yang tidak diimunisasi atau imunisasi tak lengkap. Faktor lainnya, adalah terlambat dibawa ke RS, otak kurang oksigen meninggal atau kuman mengeluarkan racun sehingga menganggu fungsi jantung.

Oleh karenanya, kata dia, semakin cepat ditangani semakin besar kemungkinan selamat. Begitu diketahui selaput putih-putih di tenggorokan, dan di hidung dibawa ke RS diobati cara benar, umumnya selamat. Kalau terlambat umumnya meninggal atau terpaksa dibolongi lehernya untuk bisa bernafas.

8. ORI atau Outbreak Response Immunization
Pemerintah melaksanakan ORI atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri. Pekan depan, tiga provinsi yang ditengarai kasus difteri paling banyak, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten menjalani program ini secara berkala, pada 11 Desember 2017, 11 Januari dan 11 Juli 2018. Jawa Timur yang juga tinggi kasus difterinya sudah lebih dulu melaksanakan ORI.

9. Penyakit Difteri Bukanlah wabah baru
Wabah difteri pernah terjadi juga pada 2009. Namun, kini wabah tersebut lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Menurut Soedjatmiko, kemungkinan terjadinya wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tak diimunisasi, dan atau diimunisasi tapi tak lengkap.

10. Menurunnya minat imunisasi
Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan ada penurunan minat orangtua melakukan imunisasi pada anaknya dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir. Pengaruh media sosial juga dinilainya cukup besar sehingga ketika ada yang anti-vaksin, yang lainnya ikut-ikutan. Menurunnya minat akan imunisasi ini turut menjadi faktor penyebab merebaknya wabah difteri di berbagai provinsi. (rah)
Bila Memberikan ASI Lewat Botol. Ketahuilah Bagaimana Cara Mensterilkan Botol Susu Bayi

Bila Memberikan ASI Lewat Botol. Ketahuilah Bagaimana Cara Mensterilkan Botol Susu Bayi

Cara Membersihkan dan Mensterilkan Botol Susu - Botol susu adalah salah satu perlengkapan bayi yang paling sering digunakan. Oleh karena itu menjaga kebersihan dari botol susu juga harus diperhatikan agar si kecil tidak terkena diare.

Membeli botol susu seharusnya disesuaikan dengan usia bayi agar bayi dapat dengan mudah beradaptasi dengan botol susunya. Karena setiap botol susu memiliki ukuran masing-masing, baik dari segi jumlah, lobang dot, dan kelenturannya.

Selain itu, perhatikan juga bahan dasar pembuatan botol susu. Bila Anda memilih botol susu berbahan plastik, pastikan bahwa plastik yang digunakan sebagai bahan dasar botol susu tidak membahayakan bagi kesehatan bayi. 

Jenis plastik yang paling aman dan sesuai untuk botol susu bayi adalah Polypropylene atau PP karena dinilai paling aman dari segi bahan kimia yang terkandungnya. Untuk menentukan jenis plastiknya anda dapat melihat kode yang tertera di botol susu bayi yang akan anda pilih. Selain memperhatikan jenis bahan plastik yang digunakan dalam botol susu bayi penting untuk anda dalam memperhatikan cara dalam mensterilkan botol susu bayi.

Rutin membersihkan botol susu merupakan salah satu bentuk kasih sayang kita sebagai orang tua kepada si kecil. Namun, membersihkan saja tidak cukup, karena tidak menutup kemungkinan cara kita membersihkan botol susu tidak cukup bersih untuk menghilangkan kuman-kuman penyebab diare yang masih menempel di botol susu meskipun telah dibersihan.

Imunitas tubuh bayi yang masih rentan adalah alasan utama buat para orang tua untuk sensitif dengan masalah-masalah seperti ini. 

Pada umumnya ada beberapa cara yang dapat anda lakukan dalam mensterilkan botol susu bayi yaitu :

1. Metode Perebusan
Ketika anda memilih untuk mensterilkan botol susu bayi dengan cara merebus yang harus perhatikan terlebih dahulu adalah jenis plastik botol bayi karena jenis Polikarbonat (PC) akan melepaskan residu senyawa kimia apabila direbus. Plastik jenis ini akan melepaskan residu yang berbahaya bagi kesehatan bayi anda yaitu jenis bisfanol yang akan membahayakan sistem hormon tubuh. Apabila jenis plastik botol susu anda memang aman untuk dilakukan strelisasi dengan cara perebusan maka hal yang dapat anda lakukan adalah dengan menyediakan panci besar dengan penutupnya. Isi panci dengan air secukupnya yaitu ketika botol susu bayi sudah tenggelam di dalam panci tersebut. Pastikan tidak ada gelembung udara yang terperangkap di dalam botol dan dot, kemudian tutup panci dan didihkan kurang lebih 10 menit.

2. Mengunakan Microwave
Banyak botol susu bayi dapat disterilisasi menggunakan microwave. Hanya dibutuhkan waktu 90 detik untuk mensterilkan botol susu bayi anda dalam menggunakan microwave. Jangan menutup botol susu selama melakukan sterilisasi microwave karena tekanan dapat terjadi di dalamnya.Hati-hati saat melepas tutup microwave pada saat strealisasi uap karena masih menyimpan panas setelah strealisasinya. Keuntungan utama dari sterilisi microwave adalah tidak ada bau atau rasa tersisa setelah metode ini. Selain itu jika anda dapat menyimpan dengan cara yang tertutup akan membantu dalam menjaga botol susu anda dalam keadaan steril selama 3 jam.

3. Metode Air Dingin 
Anda dapat membeli peralatan sterilisasi khusus untuk sterilisasi air dingin atau anda dapat menggunakan wadah plastik dengan tertutup. Jika Anda menggunakan ember atau wadah untuk menstrerilkan botol susu periksa bahwa peralatan yang anda gunakan bersih. Hal yang harus anda perhatikan selanjutnya adalah tidak ada gelembung udara yang tersisa di botol dan menjaga semuanya terendam selama minimal 30 menit untuk mensterilkan secara optimal. Bagi anda yang akan mensterilkan botol susu hal yang penting yang terkadang luput dari perhatian anda adalah kebersihan tangan anda kemudian alat alat yang akan digunakan seperti sikat botol dan juga cara membilasnya, pastikan deterjen yang anda gunakan bersih dan tidak membekas di botol susu.


Itulah beberapa cara yang dapat Bunda pilih untuk mensterilkan botol susu bayi kita. Semoga bermanfaat.