12/08/2017

10 hal yang wajib diketahui seputar wabah difteri


Firdaus45.com - Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diptheriae. Penyakit difteri ini sebenarnya sudah lama menghilang namun kini kembali mewabah lagi. Hingga November 2017, dilaporkan sebanyak 11 provinsi terkena wabah difteri ini. Dari beberapa kasus yang terjadi di berbagai provinsi, 32 diantaranya telah meninggal dunia.

Kementrian Kesehatan mencatat setidaknya ada 95 kab/kota di 20 provinsi yang terkena wabah difteri. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena diduga penyebabnya adalah banyak orang tua yang menolah memberikan imunisasi kepada anak.

Wabah ini terus meningkat jumlahnya hingga ratusan kasus di berbagai daerah. Apa dan sejauh mana bahaya wabah difteri, berikut sepuluh hal seputar penyakit difteri seperti yang dilansir CNN yang patut diketahui:

1. Dilaporkan di 20 provinsi, KLB di 11 provinsi
Setidaknya ada 95 Kab/Kota dari 20 provinsi tejangkit wabah difteri sampai pada bulan November 2017. Sementara pada kurun waktu Oktober-November 2017, Kemenkes mencatat ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) difteri di wilayah kabupaten/kotanya.

Kesebelas provinsi itu, yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Jawa Timur disebutkan menempati provinsi paling banyak kasus difteri, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

2. Apa itu Difteri? 
Difteri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae yang mudah sekali menular melalui batuk atau bersin.

"Ini karena bakteri tersebut paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi saluran nafas," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, pada Kamis (7/12).

Di samping itu, bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Itu yang kemudian menjadi sebab kematian. Difteri bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah, serta remaja.

3. Penyebab Penyakit Difteri 
Penyebab penyakit difteri diduga karena balita tersebut tidak melakukan imunisasi. Hal ini didukung dari data yang diperoleh bahwa setidaknnya dua pertiga penderita penyakit difteri adalah balita yang belum pernah diimunisasi sama sekali (belum pernah imunisasi DPT).

"Sering orangtua kalau ditanya, sudah diimunisasi walaupun tidak bisa menunjukkan itu imunisasi difteri. Mereka kerap membela diri sudah imunisasi lengkap, di sisi lain, ternyata itu imunisasi polio, atau campak, dan DPT satu kali," ujar Soedjatmiko.

Jadi, ada kelompok pertama, orang yang tidak pernah diimunisasi sama sekali, ada juga yang diimunisasi tapi tidak lengkap.

4. Berapa imunisasi difteri yang disebut lengkap?
Soedjatmiko mengatakan, idealnya adalah sampai umur 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

5. Gejala terkena difteri
Gejala yang kentara bagi penderita difteri adalah jika mendapati ada selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung, apalagi disertai leher bengkak. Bisa jadi itu difteri, dan walaupun belum tentu, akan lebih baik diperiksa dulu untuk dibuktikan. Jika mendapati gejala itu, ada baiknya segera bawa ke puskesmas, atau RS terdekat.

6. Pengobatan difteri
Jika kemudian didiagnosa difteri, maka seseorang mesti dirawat inap, lalu diberi antibiotik. Yang bahaya kalau kuman tersebut mengeluarkan racun atau toksin yang merusak fungsi jantung dan saraf. Yang terkena difteri harus diisolasi selama dua minggu, dan semua yang di sekitarnya baik itu ibu, nenek, kakak, kerabat lainnya patut diperiksa juga. Bahkan, Soedjatmiko menambahkan, sebenarnya yang perlu diprioritas imunisasi adalah mereka yang kontak dengan pasien, apakah anggota keluarga, teman sekolah, atau tetangga. Imunisasi untuk cegah difteri ini mesti diulang setiap 10 tahun.

7. Risiko meninggal dunia
Rentang waktu setelah kena diagnosa hingga meninggal dunia beragam. Ada yang 5 hari, ada juga yang satu minggu tergantung derajat keparahan. Semua yang meninggal rata-rata yang tidak diimunisasi atau imunisasi tak lengkap. Faktor lainnya, adalah terlambat dibawa ke RS, otak kurang oksigen meninggal atau kuman mengeluarkan racun sehingga menganggu fungsi jantung.

Oleh karenanya, kata dia, semakin cepat ditangani semakin besar kemungkinan selamat. Begitu diketahui selaput putih-putih di tenggorokan, dan di hidung dibawa ke RS diobati cara benar, umumnya selamat. Kalau terlambat umumnya meninggal atau terpaksa dibolongi lehernya untuk bisa bernafas.

8. ORI atau Outbreak Response Immunization
Pemerintah melaksanakan ORI atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri. Pekan depan, tiga provinsi yang ditengarai kasus difteri paling banyak, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten menjalani program ini secara berkala, pada 11 Desember 2017, 11 Januari dan 11 Juli 2018. Jawa Timur yang juga tinggi kasus difterinya sudah lebih dulu melaksanakan ORI.

9. Penyakit Difteri Bukanlah wabah baru
Wabah difteri pernah terjadi juga pada 2009. Namun, kini wabah tersebut lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Menurut Soedjatmiko, kemungkinan terjadinya wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tak diimunisasi, dan atau diimunisasi tapi tak lengkap.

10. Menurunnya minat imunisasi
Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan ada penurunan minat orangtua melakukan imunisasi pada anaknya dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir. Pengaruh media sosial juga dinilainya cukup besar sehingga ketika ada yang anti-vaksin, yang lainnya ikut-ikutan. Menurunnya minat akan imunisasi ini turut menjadi faktor penyebab merebaknya wabah difteri di berbagai provinsi. (rah)

0 komentar

Post a Comment