2/15/2017

Penyebab dan Cara Efektif Atasi Konstipasi atau Sembelit pada Bayi

Firdaus45.com -  Masalah gangguan pencernaan seperti susah buang air besar atau sembelit dapat dialami oleh siapa saja, termasuk bayi.

Susah buang air besar yang dialami oleh bayi sebenarnya bukanlah hal aneh dan ini merupakan hal yang umum terjadi.

Mengetahui apakah bayi mengalami susah buang air besar relatif mudah untuk dilakukan. Perhatikan saja kebiasaan bayi Anda dalam hal buang air besar, apakah 2 atau 3 hari sekali.

Jika dalam rentang waktu itu tidak kunjung buang air besar, bahkan mencapai waktu sekitar 1 minggu, kemungkinan bayi Anda sedang mengalami sembelit.

Ciri lain yang mudah dilihat adalah kerasnya feses dan sulit keluar. Susah buang air besar bisa jadi karena feses yang terlalu keras sehingga sulit untuk dikeluarkan.


Cara Mengetahui Bayi Konstipasi (Sembelit) atau susah buang air besar


Cara yang paling baik dalam mengetahui apakah bayi sedang mengalami masalah konstipasi atau susah buang air besar apa tidak yaitu dengan memahami siklus buang air besarnya.

Dengan memperhatikan siklus buang air besar bayi maka anda bisa mengetahui atau mendeteksi dengan segara mungkin.

Kebiasaan buang air besar pada bayi pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa hal. Aktivitas, pola makan dan minum serta kemampuan tubuh bayi dalam mencerna makanan merupakan beberapa hal yang akan berdampak pada seberapa sering bayi anda buang air besar.

Jadi, bila salah satu faktor yang disebutkan tadi mengalami perubahan, maka masalah susah buang air besar yang dialami bayi Anda disebabkan karena faktor tersebut.

Namun, meskipun perubahan pada salah satu faktor di atas dapat merubah kebiasaan buang air besar bayi, tetapi tetap saja ada batasan toleransinya. Apabila bayi anda telat buang air besar atau kurang dari tiga kali dalam satu minggu, bentuknya lebih keras dibandingkan dengan biasanya meskipun frekuensinya tidak berubah, bayi anda merasa kesakitan serta tidak nyaman, maka sudah bisa dipastikan bahwa bayi anda mengalami susah buang air besar atau konstipasi. Namun, pada bayi yang masih berusia 0-5 bulan serta masih mengkonsumsi ASI, maka buang air besar selama seminggu sekali masih dianggap hal yang wajar.

Selain tanda-tanda yang sudah disebutkan di atas, bayi juga akan mengalami gejala-gejala jika ia susah buang air besar. Apa saja gejalanya? Berikut gejala bayi konstipasi atau susah buang air besar.

  • Bayi menjadi lebih rewel dan ia akan menangis sambil mengangkat kakinya karena ia merasa kesakitan yang disebabkan susah buang air besar
  • Perut bayi menjadi kembung
  • Bayi mengalami muntah
  • Berat badan bayi tidak naik yang bisa dilihat dari kurva pertambahan berat badan dalam setiap bulannya
  • Jika diraba perutnya menjadi lebih keras
  • Dalam kasus yang parah, maka akan ditemukan bercak darah pada popok atau celana bayi, hal ini disebabkan karena dinding rektum bayi sobek akibat feses yang keras

Apa Saja Penyebab Bayi Konstipasi


Memahami segala macam bentuk aktivitas, dan kebiasaan bayi adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap orang tua. Karena dengan hal seperti, kita dapat dengan mudah mengetahui, mencegah dan mengobati bilamana bayi sedang mengalami masalah kesehatannya.

Berikut ini beberapa penyebab bayi mengalami konstipasi.

Susu Formula
Bila bayi diberikan ASI eksklusif, biasanya bayi tersebut akan jarang mengalami konstipasi atau sembelit. ASI merupakan makanan yang paling bagus untuk bayi, karena ASI sifatnya sangat mudah dicerna.

ASI memiliki beberapa kandungan bakteri baik yang dapat mengurangi protein susu yang pada umumnya sulit untuk dicerna. Keberadaan bakteri inilah yang membuat tinja bayi akan menjadi lebih lembut dan membuat buang air besar menjadi lebih mudah karena ASI tercerna dengan baik.

Hal yang wajar untuk bayi dengan konsumsi asi secara eksklusif melakukan buang air besar selama 3-5 hari sekali. Ini karena yang disebutkan tadi, bila asi adalah makanan bayi yang paling mudah dicerna oleh tubuh bayi.

Sehingga kotoran yang dihasilkan pun akan sangat sedikit. Selain itu, ASI juga mengandung hormon motilin. Dimana hormon tersebut dapat meningkatkan pergerakan usus bayi, serta memperlancar pencernaan.

Sementara itu, dalam keadaan tertentu ada beberapa ibu yang tidak mampu memberikan ASI kepada bayinya, sehingga dengan terpaksa harus memberikan susu formula. Ketika bayi masih berusia 4 bulan, tidak sedikit ibu yang sudah memberikan susu formula atau mencampur ASI dengan susu formula sebagai makanan tambahan bayi. Nah, bayi yang mendapatkan susu formula biasanya akan memiliki kecenderungan lebih besar mengalami masalah konstipasi atau susah buang air besar, hal ini disebabkan karena kandungan protein dan lemak yang ada pada susu formula tidak seimbang. Susu formula pun mengandung kalsium dan fosfor yang tinggi, dimana kandungan tersebut menyebabkan air yang terdapat pada tinja terserap ke dinding usus sehingga tinja bayi pun menjadi lebih keras. Pemilihan susu serta kadar keenceran susu yang tidak tepat pun bisa jadi salah satu penyebab tinja bayi menjadi keras sehingga ia akan mengalami sulit buang air besar.

Makanan Padat
Ketika bayi beralih mengkonsumsi makanan padat, maka pencernaan bayi akan kaget sehingga akan menyebabkan bayi sulit buang air besar. Hal ini memang wajar, terlebih lagi jika bayi anda terbiasa diberi makanan bertekstur cair.

Masa peralihan dari makanan cair ke makanan yang lebih padat memang sangat rentan menimbulkan konstipasi, terlebih lagi jika diberikan secara langsung makanan yang minim serat seperti misalkan nasi atau roti. Nah, untuk meminimalisir resiko bayi anda mengalami konstipasi, maka anda bisa memberikannya makanan yang kaya akan serat.

Kondisi Medis Tertentu
Beberapa penyakit dapat menjadi salah satu penyebab bayi sulit buang air besar meskipun hal ini jarang sekali terjadi. Beberapa kondisi medis yang dapat membuat bayi susah buang air besar yaitu alergi pada makanan tertentu, hipotiroid, serta gangguan sistem pencernaan dari lahir.

Dehidrasi
Bayi biasanya akan menghidrasi tubuhnya sendiri melalui makanan dan minuman yang ia konsumsi, termasuk ASI. Salah satu fungsi air yaitu untuk membantu proses pencernaan. Apabila buah hati anda tidak mendapatkan cairan yang cukup, maka akan mengakibatkan feses menjadi keras.

Cara Mengatasi Sembelit Pada Bayi Setelah Tahu Penyebabnya


Bayi yang sedang mengalami sembelit bisa merasakan sakit saat mengejan. Maka dari itu, dia cenderung untuk menunda buang air besar sehingga menjadikan kondisi yang dialaminya makin parah. Selain itu, bayi dengan kondisi ini mungkin menangis tiap kali diajak ke toilet untuk buang air besar. Orang tua harus menyadari perilaku tersebut.

Masalah sembelit pada bayi berusia kurang dari enam bulan membutuhkan penanganan seperti berikut.
  • Jika selama ini anak diberikan susu formula, diskusikan dulu dengan dokter untuk mengubah komposisi susu formula atau mempertimbangkan penggantian susu formula terbaik untuk bayi. Apabila bayi anda mengalami konstipasi saat ketika ia diberi susu formula, maka anda bisa mengganti susu formula yang berbeda dari biasanya. Untuk mendapatkan susu formula yang sesuai dengan kebutuhan bayi anda, maka anda bisa mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepada dokter anak.
  • Pelunak tinja poloxamer drop sebanyak 0,3 ml dapat ditambahkan ke dalam susu bayi untuk diberikan tiga kali sehari.

Sedangkan untuk bayi berkisar usia enam bulan hingga dua tahun lebih tepat untuk diberikan penanganan berikut.
  • Berikan laksatif alami untuk mengobati sembelit. Makanan yang bersifat laksatif alami paling efektif dalam mengatasi sembelit adalah jus prune. Lebih disarankan untuk mencampurkan jus buah-buahan yang lain, seperti apel, aprikot, dan cranberry agar rasa jus prune lebih disukai anak. Rebus buah prune dengan api kecil hingga mendapatkan sarinya. Sari buah prune dapat diberikan sebanyak 3 sendok makan dengan frekuensi 3 kali seminggu. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya konstipasi.
  • Obat laksatif pelunak tinja lain adalah lactulose, docusate, dan sena. Sedangkan obat bisacodyl, glycerine, dan microlax merupakan cairan yang dimasukkan ke bokong anak (obat supositoria) untuk merangsang pengosongan rektum. Namun perlu diperhatikan bahwa pemberian obat-obatan jenis ini hanya digunakan saat anak mengalami sembelit yang parah. Selain itu, campuran minyak parafin juga bisa berguna melunakkan dan melumasi tinja agar mudah dikeluarkan.
  • Biasakan duduk di toilet secara reguler. Hal ini dilakukan sekitar 3-5 menit setelah makan. Anak diminta duduk di toilet meski tidak merasa ingin buang air besar. Ciptakan suasana yang nyaman agar anak merasa nyaman juga tiap buang air besar di toilet. Melalui cara ini juga anak bisa belajar merespons keinginannya sendiri untuk buang air besar dengan selalu duduk di toilet.
  • Ketika bayi anda sudah waktunya mengkonsumsi makanan padat, maka usahakan jangan langsung memberikannya makanan yang berat seperti nasi. Anda harus memilih makanan yang kaya akan serat serta berikanlah porsi yang cukup, jangan terlalu banyak. Jika ingin mendapatkan hasil yang optimal, maka anda bisa memijat perut bayi anda sebelum diberikan makanan. Berikan makanan yang sehat dengan menambahkan serat sayuran atau buah setidaknya tiga kali tiap hari. Utamakan memberinya asupan serat dari buah-buahan berkulit yang bisa langsung dikonsumsi, seperti buah plum, aprikot, persik, atau prune. Selain buah-buahan, roti gandum juga bisa diberikan kepadanya. Hindari sereal siap saji yang sudah diproses, seperti corn flake atau rice bubble.
  • Batasi pemberian susu sapi jika anak Anda berusia lebih dari 18 bulan dan  hindari memberinya minuman manis sebelum waktu makan utama.
  • Memijat perut merupakan salah satu cara paling mudah yang bisa anda lakukan untuk mengatasi konstipasi yang terjadi pada bayi anda. Anda bisa memijat bagian bawah pusar bayi anda atau sekitar 3 jari dari pusar. Pijatlah dengan lembut dan hati-hati. Ketika anda melakukan pijatan ini, anda harus memastikan bahwa bayi anda rileks dan tidak merasa kesakitan. 
  • Agar feses yang sulit dikeluarkan tersebut terdorong oleh usus, maka anda bisa membuat anak anda lebih aktif. Apabila bayi anda sudah bisa merangkak, maka anda bisa membuat ia merangkak sesering mungkin agar feses terdorong dan mudah dikeluarkan. Apabila masih belum berhasil, anda bisa menggerakan kaki bayi seperti mengayuh sepeda.
  • Anda harus memastikan bahwa kebutuhan air si kecil terpenuhi agar proses pencernaannya lancar.
  • Memandikan bayi anda dengan menggunakan air hangat dapat membuatnya lebih rileks sehingga saluran pencernaan dapat lebih mudah mengeluarkan kotoran. Anda juga bisa memberikannya pijatan agar feses lebih mudah keluar.

Bila cara-cara diatas tidak juga mampu mengatasi masalah konstipasi atau sembelit atau susah buang air besar pada bayi Anda, maka jangan pernah ragu untuk konsultasi pada dokter terdekat untuk dilakukan pemeriksaan secara langsung.

Semoga dapat membantu para ibu dirumah.

Artikel Menarik Lainnya