8/07/2016

Cara Mencegah Autis Pada Bayi

Firdaus45.com -  Cara Mencegah Gangguan Mental / Autis Pada Bayi. Autis atau autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD), merupakan gangguan mental yang mempengaruhi interaksi sosial, komunikasi dan sosial. Data dari Badan Pusat Statistik, diperkirakan sekitar 2,4 juta orang Indonesia mengalami autisme pada tahun 2010.  Jumlah penduduk Indonesia pada saat itu mencapai 237,5 juta jiwa, berarti ada sekitar satu orang penyandang autisme pada setiap 100 bayi yang lahir.

Autis bisa terjadi pada bayi bila ibu hamil selama program kehamilannya tidak siap dalam memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi yang diperlukan janin. Selain memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil harus siap dalam segala halKesiapan ibu hamil memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi bayi yang akan dilahirkannya. Bahkan saat menjelang kelahiran si bayi, persiapan sebelum melahirkan juga harus dipikirkan secara matang.

Hal ini diperlukan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang salah satunya untuk mencegah gangguan mental bayi.

Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan ibu hamil untuk mencegah gangguan mental pada bayi.

Mencukupi Kebutuhan Asam Folat Selama Kehamilan
Asam folat memiliki peran yang sangat penting dalam kebutuhan ibu hamil. Seperti yang telah dijelaskan oleh Dr Pal Suren, selaku  pemimpin tim penelitian dari division of epidemiology at the Norwegian Institute of Public Health di Oslo menyatakan bahwa ibu hamil yang diberi resep asupan asam folat selama masa kehamilan dapat bermanfaat untuk mengurangi risiko autisme pada bayi setelah dilahirkan. Selama kehamilan tidak boleh lepas dari kebutuhan asam folat.

Karena asam folat termasuk salah satu vitamin yang memiliki peran untuk membantu perkembangan otak janin dan mencegah masalah cacat lahir yang satunya autisme. Menurut hasil dari sebuah study oleh Tim peneliti menyatakan bahwa memenuhi kebutuhan sumber asam folat selama awal kehamilan mampu mencegah risiko genetik dan melindungi dari gangguan spektrum autisme.

Tidak Mengkonsumsi Minuman Beralkohol, Rokok dan Obat-obatan Terlarang.
Ibu hamil sangat dilarang mengkonsumsi minuman tinggi alkohol, merokok dan menggunakan jenis obat-obatan terlarang. Tidak hanya selama kehamilan saja, sebelum masa kehamilanpun juga tidak diperbolehkan karena dapat memberikan dampak buruk pada anak maupun ibu. Dampak buruk yang bisa terjadi pada anak diantaranya adalah timbulnya gangguan mental seperti gangguan spektrum autisme maupun keterbelakangan mental. Untuk menghindari hal-hal yang memberikan dampak buruk tersebut sebaiknya dilakukan mulai sejak dini.

Mencukupi Kebutuhan ASI Eksklusif Pada Bayi.
Memberikan ASI Eksklusif pada bayi merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan tumbuh kembangnya bayi. ASI dapat berperan sebagai antioksidan alami dan mampu mencerdaskan otak pada bayi. Selain itu juga mampu mengurangi resiko timbulnya autisme pada bayi. Pemberian ASI pada bayi manfaatnya jauh lebih baik daripada susu formula terbaik sekalipun. Untuk itu ada baiknya 6 sebelum masa menyusui melakukan detoksifikasi tubuh ibu agar mendapatkankualitas ASI terbaik.

ASI yang berkualitas dapat bermanfaat dalam pencegahan perkembangan masalah autisme. Menurut hasil dari sebuah penelitian, bayi yang tidak diberi ASI atau hanya dengan pemberian susu formula bayi tanpa docosahexaenoic acid/suplementasi asam arakidonat dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan spektrum autistik.

Seperti yang telah dijelaskan dari hasil sebuah penelitian, susu bayi yang kekurangan jumlah kandungan asam lemak esensial seperti Omega -3 dan asam lemak Omega -6 dapat menimbulkan gangguan spektrum autistis pada bayi. Asam lemak memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan awal otak bayi yang belum lahir dan setelah lahir.

Membatasi Jenis Makanan Yang Memiliki Kandungan Gluten dan Kasein.
Kaum wanita hamil pada saat awal kehamilan sebaiknya mengurangi jenis-jenis makanan yang mengandung gluten dan kasein. Pengurangan asupan gluten dan kasein pada ibu hamil muda diperlukan untuk mencegah anak dari gangguan autisme. Jenis makanan yang banyak mengandung gluten dapat ditemukan pada makanan seperti wheat, rye, gandum dan barley. Gluten maupun kasein memiliki keterkaitan dengan gangguan autisme karena zat tersebut mampu meningkatkan jumlah peptida dalam darah dan urine, sehingga mengganggu aliran sinyal biokimia dalam otak.

Menurut hasil dari sebuah studi pada anak-anak penderita autis dengan diet bebas gluten dan kasein dalam jangka waktu 5 bulan, tercatat telah mengalami peningkatan beberapa parameter kebaikan. Bila akan menggunakan produk berbahan tepung atau jenis makanan dalam kemasan sebaiknya membaca label terlebih dahulu untuk memastikan produk bebas gluten. Perlu anda ketahui, beberapa jenis makanan yang tidak mengandung gluten diantaranya kacang-kacangan, beras, kedelai, kentang, ikan, daging, singkong, dan tepung tapioka.

Menghindari Penggunaan Vaksin Yang Mengandung Merkuri.
Sebelum melakukan vaksinasi ibu hamil sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih vaksin. Percayakan pada tenaga ahli dari pemerintahan resmi atau dokter yang telah terpercaya agar vaksin yang digunakan benar-benar aman dan bebas dari merkuri. Penggunaan vaksin yang banyak mengandung merkuri  dapat menimbulkan masalah kesehatan ibu hamil maupun janin.

Seperti hasil dari sebuah penelitian pada ibu hamil yang telah terkontaminasi merkuri, bayi yang dilahirkannya mengalami gangguan spektrum autisme. Untuk itu ibu hamil harus lebih berhati-hati. Selain vaksin bermerkuri, penggunaan bahan kosmetik yang mengandung merkuri juga dapat menimbulkan kerusakan syaraf dan autisme pada bayi.

Tidak Menggunakan Antibiotik Secara Berlebihan.
Penggunaan antibiotik pada bayi yamg melebihi dari dosis yang telah direkomendasikan dapat menimbulkan masalah autisme. Dalam menggunakan antibiotik sebaiknya dilengkapi dengan penggunaan probiotik. Hal ini diperlukan agar tidak merusak bakteri yang berperan baik dalam usus. Bakteri baik dalam usus diperlukan untuk membantu mempermudah proses pencernaan. Bila penggunaan antibiotik yang tidak diimbangi dengan probiotik secara jangka lama dapat berdampak buruk.