3/04/2016

Inilah Penyebab Hamil Anggur dan Gejala Hamil Anggur Yang Harus Diketahui

Firdaus45 - Inilah Penyebab Hamil Anggur dan Gejala Hamil Anggur Yang Harus Diketahui. Perut membengkak seperti orang yang sedang hamil akan tetapi tidak ada tanda-tanda kehamilan yang terjadi. Jika hal itu terjadi pada anda, maka anda harus hati-hati dan sesegera mungkin periksakan diri anda pada dokter kandungan, bisa jadi itu merupakan hamil anggur.

Hamil anggur merupakan tumbuhnya sel tumor jinak dalam rahim pada saat masa kehamilan. Hamil anggur merupakan suatu kondisi dimana terjadi ketika sel telur telah dibuahi oleh sel sperma dan plasenta tidak dapat berkembang secara normal. Sehingga akan mengakibatkan sel-sel abnormal tersebut membentuk sekumpulan kista. (Baca: Penyebab munculnya kista)

Hamil anggur merupakan suatu kejadian yang jarang sekali, hanya sebagian kecil saja yang pernah mengalami hamil anggur semacam ini. Saat seorang wanita telah di diagnosis mengidap hamil anggur, sangat dianjurkan untuk sesegera mungkin melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar tidak terjadi komplikasi penyakit lain yang mungkin membahayakan nyawa si ibu. Pada penderita hamil anggur, komplikasi penyakit yang mungkin terjadi adalah penyakit trofoblastik gestasional.

Untuk itu perlu menjadi perhatian ibu hamil untuk terus waspada dan mengetahui secara pasti apa penyebab hamil anggur agar tidak terjadi masalah tersebut. Berikut ini penyebab hamil anggur yang harus diketahui oleh setiap wanita hamil.



Penyebab dan Jenis Hamil Anggur

Hamil anggur disebabkan karena adanya gangguan pada kromosom yang mengakibatkan kromosom menjadi tidak normal. pada kasus hamil amil anggur, sperma yang bertugas membuahi sel telur tidak memiliki atau tidak membawa informasi genetika. Hamil anggur juga dapat terjadi ketika satu sel telur dibuahi oleh dua sel sperma. Atas dasar kejadian ini, hamil anggur dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

Hamil anggur lengkap merupakan terjadinya masalah saat masa pembuahan sel telur oleh sperma yang tidak memiliki informasi genetika dan hasil pembuahan tersebut tidak dapat berkembang menjadi fetus, sehingga lama-kelamaan dapat menyebabkan rahim dipenuhi oleh sekumpulan jaringan abnormal.

Sedangkan hamil anggur parsial merupakan terjadinya masalah kehamilan dimana satu sel telur normal dibuahi oleh dua sperma secara bersamaan. Sehingga akan mengakibatkan jaringan plasenta abnormal akan tumbuh bersamaan dengan fetus yang juga abnormal. Jaringan fetus tersebut lama-kelamaan pada umumnya akan mengalami kerusakan yang sangat fatal dan tidak dapat berkembang secara normal.

Gejala-gejala Hamil Anggur

Gejala hamil anggur pada awalnya sama persis dengan gejala kehamilan normal. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia masa kehamilan terjadi gejala-gejala sebagai berikut :
  • Perut terasa mual dan muntah yang sangat parah.
  • Mengalami pendarahan dari daerah kewanitaan / Miss V , terutama pada saat trimester pertama.
  • Rahim terlihat lebih besar tidak sesuaui dengan usia kandungan yang seharusnya.
  • Keluarnya jaringan berbentuk menyerupai buah anggur dari miss v.
  • Timbulnya gangguan hipertensi.
  • Adanya pembentukan kista ovarium.
  • Mengalami anemia.
  • Tulang panggul terasa nyeri secara berlebih
Gejala yang terjadi pada masalah hamil anggur  memiliki kemiripan dengan tanda-tanda kehamilan biasa (normal). Hal ini membuat penderita hamil anggur cenderung tidak menyadarinya. Untuk itu ibu hamil yang mengalami gejala-gejala seperti tersebut diatas segera periksakan diri Anda ke dokter ahli kandungan terdekat, terutama pada awal masa kehamilan. Agar terhindar dari resiko hamil

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hamil Anggur

Tingginya resiko seorang wanita mengalami hamil anggur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor risiko hamil anggur tersebut meliputi:

  • Faktor usia ibu saat hamil. Usia juga memberikan pengaruh besar terhadap risiko hamil anggur.  Wanita pada usia 20 tahun ke bawah atau  40 tahun ke atas resiko mengalami hamil anggur cenderung lebih tinggi.
  • Saat hamil sebelumnya pernah mengalami keguguran.
  • Saat hamil sebelumnya pernah mengalami hamil anggur .

Proses Diagnosis Hamil Anggur

Mendiagnosis hamil anggur cenderung lebih sulit terdeteksi, apabila tanpa pemeriksaan yang lebih mendetail, yakni melalui USG dan tes darah. Hal ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan hamil anggur hampir memiliki kesamaan dengan ciri-ciri kehamilan normal.

Untuk mengetahui kondisi hamil anggur secara umum melalui proses USG pada trimester pertama kehamilan, tepatnya minggu 10 - 14. Pemeriksaan tes darah juga sangat dianjurkan pada wanita yang mengalami hamil anggur. Hal ini bertujuan untuk mengukur kadar hormon HCG yang berhubungan dengan kehamilan.

Langkah Penanganan Hamil Anggur

Apabila hasil dari diagnosis menunjukkan positif mengalami hamil anggur, ibu hamil sangat anjurkan untuk menjalani penanganan secepatnya agar tidak terjadi komplikasi jenis penyakit lainnya.

Penanganan hamil anggur pada umumnya dengan metode operasi pengangkatan jaringan abnormal pada hamil anggur. Langkah operasi pengangkatan jaringan abnormal pada rahim dapat dilakukan melalui beberapa prosedur yang meliputi:
  • Kuret.
  • Histerektomi atau pengangkatan rahim. Jika melakukan pengangkatan dengan metode histerektomi ini penderita tidak akan memiliki keturunan lagi. Apabila masih menginginkan kehamilan sebaiknya melakukan pengangkatan dengan metode kuret.
Setelah menjalani prosedur pengangkatan, akan dilakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui kadar hormon HCG. Biasanya pasien yang masih memiliki jumlah kadar hormon HCG harus dilakukan dengan penanganan lebih lanjut.

Waktu yang diperlukan untuk proses pemeriksaan HCG dilakukan selama setengah tahun hingga satu tahun dengan tenggat waktu setiap dua minggu sekali. Hal ini bertujuan untuk memastikan adanya sel-sel abnormal yang kembali tumbuh pada rahim. Selain itu juga untuk memantau gejala-gejala yang ditimbulkan dari penyakit trofoblastik. Apabila penderita terdapat indikasi dari penyakit trofoblastik, maka harus segera dilakukan penanganan melalui kemoterapi.

Pasien dianjurkan untuk menunda kehamilan, terutama selama menjalani proses pemantauan. Sedangkan pasien yang terindikasi terkena penyakit trofoblastik dan menjalani kemoterapi umumnya akan kembali mengalami siklus menstruasi dalam waktu setengah tahun setelah selesainya proses pengobatan.

Artikel yang disarankan:
1. Tips menguatkan janin dalam kandungan
2. Penyebab janin meninggal dalam kandungan
3. Alasan kenapa wanita sulit hamil
4. Tips mengetahui masa subur wanita
5. Dampak kekurangan gizi saat masa kehamilan