11/16/2015

Apakah Deodoran Dapat Memicu Kanker Payudara?

Apakah Deodoran Dapat Memicu Kanker Payudara?


Tips Kesehatan - Di era modern saat ini telah banyak yang menggunakan deodoran dengan berbagai merk. Merk deodoran terpopuler biasanya paling paling banyak digunakan oleh setiap orang. Merk deodoran paling populer terkadang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai merk deodoran terbaik.

Sehingga dengan leluasa menggunakan deodoran pada ketiak tanpa memikirkan efek penggunaan deodoran jangka panjang. Letak ketiak yang dekat dengan payudara menimbulkan dugaan bahwa apa pun yang digunakan di sekitar bagian ini akan berdampak kepada perubahan sel pada organ payudara. Pada komponen deodoran tertentu ditemukan beberapa unsur yang jika digunakan diduga dapat menjadi penyebab munculnya kanker payudara.

Ada berita yang mengemukakan bahwa deodoran mengandung bahan tertentu yang dapat diserap kulit dan memasuki tubuh melalui goresan terbuka yang mungkin timbul akibat mencukur bulu ketiak. Disebutkan pula bahwa pengolesan di area ketiak dapat berisiko menjadi penyebab kanker payudara karena lokasinya yang berdekatan dengan organ tersebut.

Apakah Deodoran Dapat Memicu Kanker Payudara?


Apakah Deodoran Memicu Kanker Payudara?
Memang dalam pembuatan deodoran terdapat beberapa senyawa yang berbasis alumunium. Bahan-baahan ini dapat membentuk sumbatan pada kelenjar keringat pada saat digunakan. Secara otomatis keringat pada area penggunaan deodoran tidak dapat keluar karena telah terjadi penyumbatan pada kelenjar keringat. Penyerapan bahan ini oleh kulit disebut-sebut dapat menyebabkan efek yang serupa dengan yang diakibatkan oleh efek estrogen yang mampu mendukung pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Selain aluminium, unsur lain yang bernama parabens juga dicurigai dapat menimbulkan efek serupa di atas. Kamu dapat menemukannya di dalam label dengan nama seperti methylparaben, propylparaben, butylparaben, atau benzylparaben.

Beredar rumor bahwa zat-zat kimia di dalam deodoran menjadi penghalang bagi tubuh dalam membuang racun melalui keringat, sehingga kemudian mencapai kelenjar getah bening dan berperan menyebabkan perubahan sel menjadi sel kanker. Beberapa penelitian juga mengklaim zat-zat kimia tersebut dapat berinteraksi dengan DNA dalam beberapa sel atau menyebabkan perubahan sel payudara sehingga menyebabkan berkembangnya potensi kanker payudara.

Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menemukan adanya bukti atas sangkaan tersebut. Hingga saat ini belum ada bukti yang kuat bahwa deodorant dapat meningkatkan risiko kanker. Berikut perinciannya:


  • Penelitian menyatakan bahwa parabens ditemukan pada jaringan tumor payudara dari sebagian sampel pengidap kanker payudara. Meski demikian, tidak serta merta membuktikan bahwa parabens adalah penyebab tumor.

  • Selain itu, belum tentu juga parabens yang dimaksud berasal dari penggunaan deodoran. Ada banyak kosmetik lain yang mengandung parabens yang juga berisiko terserap melalui permukaan kulit. Sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa hanya deodoran yang menjadi penyebab adanya parabens di dalam tubuh manusia.

  • Sebagian besar deodoran yang beredar di pasaran saat ini tidak mengandung parabens.

  • Penelitian lain dengan sampel yang lebih besar menemukan bahwa tidak ada peningkatan risiko kanker payudara pada wanita pengguna deodoran, begitu juga bagi mereka yang menggunakan pencukur bulu ketiak.

  • Kanker payudara juga ditemukan pada wanita yang tidak terlalu sering mencukur bulu ketiak dan tidak menggunakan produk deodoran dengan kandungan bahan yang diduga berbahaya tersebut.

  • Faktor-faktor lain, seperti riwayat anggota keluarga pengidap kanker payudara dan konsumsi pil kontrasepsi, lebih berpengaruh dibandingkan penggunaan deodoran.

  • Penggunaan deodoran juga sempat dipertanyakan keamanannya pada pengidap gangguan ginjal. Hal ini dikarenakan tubuh tidak lagi dapat membuang aluminium secepat yang diperlukan sehingga berisiko menyebabkan penumpukan dalam tubuh. Pasien dialisis dengan kadar aluminium tinggi memang lebih berisiko mengidap demensia.


Namun ini bukan berarti bahwa pengidap gangguan ginjal sebaiknya tidak menggunakan deodoran. Faktanya menurut dokter, meski dapat terserap tubuh, tidak mungkin kadar aluminium dalam deodoran cukup untuk mendatangkan bahaya terhadap ginjal.

Penyakit kanker payudara merupakan penyakit yang kompleks dan tidak mungkin disebabkan oleh satu faktor kecil, seperti hal kekhawatiran penggunaan deodoran. Untuk menghindari kemungkinan munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor kecil semacam ini, anda dapat mencegahnya juga dengan beberapa hal kecil seperti halnya olahraga yang cukup, konsumsi makanan sehat, dan yang paling utama adalah menghindari stress.

Kesimpulannya, tidak ada bukti ilmiah kuat yang dapat membuktikan dugaan bahwa deodoran dapat membahayakan kesehatan penggunanya. Namun jika kamu masih ragu, sebaiknya cermati bahan-bahan yang terkandung dalam deodoran yang tertera pada kemasan. Meski tidak terbukti secara medis, namun mengingat fakta bahwa jaringan tubuh manusia memang menyimpan parabens, maka ada baiknya menghindari bahan serupa untuk digunakan. Caranya adalah dengan membaca label pada kemasan secara saksama.

Untuk lebih amanya, jika anda memiliki keringat yang berlebih dan ingin bau keringat anda tidak menyebar kemana-mana, anda dapat menggunakan tawas sebagai pengganti deodoran. Penggunaannya juga cukup mudah tinggal dioleskan di area ketiak agar keringat tidak berbau.

Sumber: alodokter.com

Artikel Menarik Lainnya